Agar Terhindar dari Sifat Suudzon

Sifat suudzon
Manusia menjadi target setan dalam menyebarkan keburukan. Salah satu sifat setan yang berhasil ada di diri manusia yaitu tamak dan rakus. Kerakusan yang membuat manusia ingin mendapatkan sesuatu lebih dari orang lain. Sifat “ingin lebih dari yang lain” membuat manusia iri saat melihat orang lain lebih darinya. Bisa lebih sukses, lebih kaya, lebih pintar dan lainnya. Sehingga untuk membenarkan keirian hatinya manusia sering bersifat buruk sangka pada orang lain atau yang biasa disebut dengan suudzon atau negative thinking. 

Bahaya Suudzon 

Hati merupakan organ manusia tempat segala perasaan yang kemudian mengendalikan perilakunya. Jika suudzon telah menjangkiti hati, maka tidak akan ada lagi ketenangan dalam hatinya. Ketika melihat orang lain mendapatlkan nikmat maka yang ada dihatinya hanya rasa gelisah, sibuk mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Dia pun tidak memiliki waktu untuk mengoreksi dirinya karena menganggap dirinya paling benar, dan orang lain memiliki kekurangan. Orang yang suudzon atau negative thinking ini sering diibaratkan “Kuman diseberang lautan tampak sedangkan gajah dipelupuk mata tidak tampak”. Maknanya kesalahan dirinya yang banyak tertutupi oleh sifat suudzonnya sedangkan kesalahan orang lain sekecil apapun akan dinilai, dan kemudian akan disebarkan kepada orang lain. Naudzubillah.
Baca juga : cara menyelesaikan masalah dalam Islam 
Penyebab Suudzon 

Dalam Islam manusia terlahir ke dunia dalam keadaan fitrah. Artinya segala yang ada di hatinya merupakan sebab akibat dari tindakannya, termasuk suudzon. Orang memiliki sifat suudzon bisa disebabkan karena hal berikut : 

1. Pertama, karena godaan setan 

Setan tidak rela manusia dalam ketaatan. Maka ia akan mencari jalan untuk menjerumuskan manusia bagaimanapun caranya. Suudzon salah satu jalan setan menggoda manusia agar manusia tidak lagi taat, mengumpat dan memecah belah. 

2. Kedua, Jiwa yang lemah 

Iman seseorang mengalami naik dan turun. Dalam kondisi naik tentu ketaatan yang dilakukan. Lain halnya ketika dalam kondisi iman turun, maka jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan jiwa menjadi lemah. Dalam kondisi jiwa lemah, bisa menjadi jalan setan masuk ke jiwa dan mempengaruhi manusia untuk selalu suudzon. 
 Baca juga : Amalan ibadah saat muslimah haid
3. Ketiga, Sifat Sombong. 

Nikmat yang diberikan kepada Allah lebih banyak dari pada orang lain kadang malah membuat manusia sombong. Sifat sombong akan membuat dirinya merasa lebih baik dari orang lain. Dia akan tidak suka jika orang lain menyamai apa yang dimiliki atau bahkan lebih baik dari dirinya. Sehingga ia akan mencari kesalahan orang tersebut dan suudzon terhadap apa yang dicapai orang lain. Terlebih jika orang tersebut adalah yang tidak disukainya. 

4. Keempat, Menyamakan dirinya dengan orang lain. 

Ketika ia berbuat buruk pada orang lain, orang yang memiliki sifat suudzon tidak merasa bersalah. Ia akan mengira orang lain juga melakukan hal yang sama dengannya. Jikapun orang lain tidak melakukan yang menyerupainya, maka orang tersebut dikira melakukan keburukan. Dia tidak akan merasa menyesal bersuudzon pada orang lain, karena orang lain tidaklah lebih baik darinya. 
Baca juga : Adab muslimah saat bepergian
Memang penyebab suudzon diatas jika dibiarkan akan menjadi pengurang pahala secara perlahan. Maka jika suudzon sudah mulai menjangkiti maka sebaiknya yang dilakukan adalah sebagai berikut : 

Lihat kebaikan orang lain 
Suudzon muncul salah satunya karena menganggap jelek perilaku orang lain. Maka ketika prasangka itu datang segera beristigfar, dan mendoakan orang tersebut. Selain itu ingat selalu kebaikan orang lain. Sehingga perilaku jelek yang ia lakukan, akan tertutupi dengan segala kebaikannya. Jika demikian tidak sempat lagi suudzon kepada orang lain. 

Menginstropeksi diri setiap hari 
Orang yang suka instropeksi diri tidak akan sempat mengkoreksi orang lain. Ia akan menyadari tidak patut baginya menilai keburukan orang lain, terlebih bersuudzon yang belum tentu apa yang disangkanya adalah benar. 

Memperbaiki diri 
Orang yang telah menginstropeksi diri akan menyibukkan dirinya beramal kebaikan. Ia tidak akan sempat bersuudzon pada orang lain serta merasa itu hanya perbuatan yang sia-sia. Karena baginya jalan terbaik adalah memperbaiki diri sehingga hidupnya bisa diridhoiNya. 

Memang dijaman serba mudah dengan hadirnya teknologi, banyak yang ingin tahu kehidupan orang lain. Namun ketika mendapati kebaikan pada orang tersebut, terlebih jika orang yang tidak disukainya maka muncullah suudzon. Maka dari itu “hiduplah seperti kita membutuhkan garam, secukupnya saja”. Karena jika berlebihan mengetahui kehidupan orang lain, tentu akan “keasianan” yang membuat hidup tidak tenang. Semoga kita semua selalu terjaga dari sifat suudzon ya, Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar